Andi Muhammad Jufri, Program Manajer Yayasan Nurani Dunia yang telah berpengalaman selama empat tahun mendampingi masyarakat nelayan di pesisir kepulauan Kapoposang, Sulawesi Selatan, memfasilitasi konflik antar kampung di kawasan Bonang, Jakarta Pusat, dan mengembangkan program ekonomi aternatif yang ramah lingkungan di perkampungan kumuh Kapuk, Jakarta Utara berbagi tips mengenai cara efektif melakukan pendekatan terhadap berbagai kelompok sosial yang menjadi masyarakat dampingannya.
PFPM: Sepengalaman Anda, bagaimanakah pendekatan yang paling efektif agar diterima oleh masyarakat dampingan?
Andi Muhammad Jufri (AMJ):
”Pertama, siapapun yang masuk ke masyarakat, dia harus merasa ’bodoh’. Jangan merasa pintar karena seringkali pendapat-pendapat kita, walaupun benar, seringkali berbenturan dengan masyarakat.
’Bodoh’ artinya menyimpan ilmu itu, melihat dulu sampai di mana pengetahuan masyarakat. Mungkin pendapat kita sangat bagus, di tingkat referensi, di tingkat keilmuan, sudah diakui benar. Tetapi bagaimana mensejajarkan itu pada level pengetahuan masyarakat itu menjadi penting. Bagaimana kita tidak mengeluarkan apa-apa dulu, mendengar dari masyarakat dulu, baru kita mencoba mensinergikan pengetahuan kita dengan pengetahuan masyarakat.
Kalau kita memaksakan pengetahuan kita supaya diterima oleh masyarakat, menggunakan bahasa-bahasa tertentu bahwa itu benar, maka masyarakat seringkali tidak melihat lagi apakah kita benar atau tidak, tapi mereka akan merasa digurui.
Sikap ’bodoh’ itu sebenarnya merupakan upaya yang efektif bagi seorang fasilitator untuk menjaga hubungan hati dengan kelompok dampingannya. Seringkali pendapat kita benar, tapi tidak didengar oleh masyarakat karena hati kita belum terhubung dengan dia. Secara kreatif kita harus ”bodoh”. Kita harus berani membuang perilaku-perilaku kita yang mungkin terlalu eksklusif.
Untuk bisa diterima ke dalam masyarakat tersebut kita harus berani berkunjung ke rumah-rumah mereka, bercerita di tempat-tempat kerja mereka, bermain bola dengan anak-anak mudanya, berenang di pinggir pantai bersama mereka, menyalami ibu-ibu mereka, mengikuti kegiatan-kegiatan umum di masyarakat, dan tidak berkata: ’Ini salah, ini benar’… Tapi mencoba menjalani itu.
Itu sebuah proses dalam pemberdayaan masyarakat, proses sosialisasi. Proses mengadaptasikan seorang pendamping masyarakat ke dalam masyarakat itu sendiri. Itu adalah hal yang penting dan perlu dijaga oleh seorang fasilitator atau pendamping masyarakat di manapun dia berada.
Kedua, kita juga harus mencoba bersikap ’tuli’. Masyarakat itu biasanya mulai membuka diri jika sudah mengenal kita selama beberapa hari, minggu, atau bulan. Kemudian masyarakat seringkali menceritakan kejelekan-kejelekan antara yang satu dengan yang lainnya.
Hal tersebut selalu akan kita temui di manapun kita berada. Itu karakter masyarakat yang biasa. Di situ kita perlu tuli mendengar. Tuli maksudnya, kita mendengar tapi tidak berarti mempengaruhi hati kita terhadap orang yang dia ceritakan.
Seringkali kita membatasi diri ketika mendengar kejelekan orang lain, mudah untuk bersikap antipati terhadap orang tersebut, kemudian menjauhinya. Padahal seringkali justru itu akar masalah yang coba kita selesaikan di masyarakat, di situlah sumber masalahnya.
Ketiga, pemetaan konflik lokal yang terselubung menjadi penting. Resolusi konflik secara persuasif harus dilakukan, karena kita tidak mungkin melakukan intervensi program tanpa mengetahui pemetaan sosialnya.
Apabila kita mengetahui pemetaan sosial maka intervensi dapat ditentukan di posisi yang tepat, kira-kira apakah yang menjadi resultan di antara sekian banyak konflik yang terjadi. Apabila ini tidak dilakukan, maka di lapangan akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang mungkin menyulitkan kita dalam keberlanjutan program.
Seringkali tokoh masyarakat yang kita segani justru menjadi sumber konflik, oleh karena itu menjaga jarak dengan mereka itu perlu juga. Kita sering datang ke rumahnya, bermalam di situ, namun tidak berarti kita mengabaikan orang-orang di sekelilingnya.
Makanya kita perlu rajin bersosialisasi dengan masyarakat, saling bercerita di waktu luang mereka. Tapi kita tetap ’tuli’, tidak boleh mengungkapkan apa yang kita dengar kepada orang lain. Jangan kita klarifikasi-klarifikasi.
Ketika kita mengungkapkan sesuatu pada orang lain, maka Anda menjadi sumber konflik, dan itu berbahaya. Makanya Anda harus tuli. Bodoh dan tuli! Ha ha ha…”