Dedikasi hanyalah sebagai kiasan bagaimana kehidupan kita kelak, apa yang akan terjadi kelak dan nafsu apa yang telah ada pada kita selam ini.

Seorang pemuda gagah dan perkasa, dengan harta yang dirasa cukup namun selalu merasa kekurangan akan hadirnya seorang istri, 4 istri mungkin sudah dirasa cukup untuknya. dari 4 istri tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Istri ke-4, dia sangat mencintai istri yang ke-4 ini karena kecantikanya serta pandai dalam mengelola/menyebarluaskan bisnisnya. Istri ke-3, iapun sangat berbangga dengan sang istri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan waita cantik kepada semua temanya, namun ia juga selalu kuatir kalu istrinya ini lari dengan pria lain. Begitu juga dengan istri ke-2. Sang pemuda sangat menyukainya karena ia istri yang sabar dan penuh pengertian.kapanpun pemuda mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan isteri ke-2 nya ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.

Sama dengan isteri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami.

Akan tetapi, sang pemuda semakin tahun semakin bertambah umur dan ia menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, “saat ini aku punya 4 isteri. Namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan”

Iapun bertanya kepada masing-masing istrinya :

ISTERI KE-4 : NO WAY
Sang suami berkata “Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku mau mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku?” Ia terdiam……..tentu saja tidak! Jawab Isteri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan ada pisau terhunus dan mengiris-iris hatinya.

ISTERI KE-3 : MENIKAH LAGI
Sang suami sedih dan ia bertanya lagi kepada isteri ke-3 “Akupun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku?” Isterinya menjawab, “hidup begitu indah disini, Aku akan menikah lagi jika kau mati”. Bagai disambar petir di siang bolong, sang suami sangat terpukul dengan jawaban tsb. badanya terasa demam.

ISTERI KE-2 : SAMPAI LIANG KUBUR
Kemudian ia memanggil isteri ke-2. “Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah engkau maendampingiku?” jawab sang Isteri, “Maafkan aku kali ini aku tak bisa menolongmu. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur. Nanti akan kubuatkan makam yang indah untukmu”.

ISTERI KE-1 : SETIA BERSAMA SUAMI
Sang suami ini merasa putus asa. Dalam kondisi kecewa itu, tiba-tiba terdengar suara, “Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi”.
Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Pria itu menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya di sana. Ia tampak begitu kurus. Badanya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang suami lalu bergumam, “Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engaku kurus seperti ini, Isteriku”.

HIDUP KITA DIWARNAI 4 ISTERI
Sesungguhnya, kita punya 4 Isteri dalam hidup ini.

Isteri ke-4 adalah TUBUH kita
seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.

Isteri ke-3 adalah STATUS SOSIAL DAN KELAYAKAN
Saat kita meninggal, semua akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap ketika kita tiada.

Sedangkan Isteri ke-2 adalah KERABAT DAN TEMAN
Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, kita tak akan bisa terus bersama mereka. hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.

Dan sesungguhnya isteri pertama kita adalah JIWA DAN AMAL KITA.
Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amallah yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan pernah malu untuk berbuat amal, memberikan pertolongan kepada sesama yang memerlukan.

Mari kita belajar memperlakukan jiwa dan amal kita dengan bijak.